Sabtu, 07 Januari 2012

makalah psikologi perkembangan+

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tingkah laku prososial merupakan tingkah laku yang positif yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik / psikis orang lain lebih baik yang dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain. Tingkah laku tersebut meliputi segala bentuk  tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa memperhatikan motif si penolong. Perilaku prososial berasal dari dalam diri seseorang untuk mengubah dirinya. Misalnya individu A menolong orang yang sedang kesusahan, tanpa memperhatikan motif penolong. Tingkah laku prososial dipandang sebagai tingkah laku yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, melalui hal ini individu menjalankan fungsi kehidupan sebagai penolong dan ditolong. Didalam tingkah laku prososial hal yang harus diperoleh dari lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah akan menentukan cara-cara remaja dalam melakukan interaksi dengan lingkungan sosial.
B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, akan dibahas secara terperinci yang meliputi :
  1. Apa pengertian tingkah laku prososial?
  2. Bagaimana sumber tingkah laku prososial?
  3. Bagaimana perkembangan tingkah laku prososial?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial?
  5. Bagaimana implikasinya?










BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Tingkah Laku prososial
Terdapat beberapa pendapat para ahli psikologi tentang perilaku prososial diantaranya :
a. Sri Utari Pidada (1982)
Mendefinisikan bahwa perilaku prososial merupakan suatu tingkah laku yang mempunyai suatu akibat atau konsekuensi positif bagi patner interaksi, selain itu tingkah laku yang bisa diklasifikasikan sebagai tingkah laku sosial sangat beragam dimulai dari bentuk yang paling sederhana hingga yang paling luar biasa.
b. Brigham (1991)
Menyatakan bahwa wujud tingkah laku prososial meliputi murah hati (charity), persahabatan (frienship), kerja sama (cooperation), menolong (helping), penyelamatan (rescuing).
c. Lead (1978)
Menyatakan tiga kriteria yang menentukan tingkah laku prososial yaitu :
  • Tindakan yang bertujuan khusus menguntungkan orang lain tanap mengharap reward eksternal
  • Tindakan yang dilakukan sukarela
  • Tindakan yang menghasilkan hal yang positif
Dari beberapa pendapat diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial positif yang menguntungkan, yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain sehingga menjadikan kondisi fisik maupun psikis orang lain menjadi lebih baik selain itu tindakan prososial dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan reward eksternal. Perkembangan tingkah laku prososial telah dimulai sejak masa kanak-kanak. Dalam psikologi juga mengatakan bahwa kemampuan seorang anak dalam berbagai hal akan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
2. Sumber Tingkah Laku Prososial
a. Endosentris
Endosentris merupakan keinginan untuk mengubah diri dengan menampilakn self-image. Secara keseluruhan endosentris ini meningkatkan konsep diri, salah satu bentuk konsep diri adalah self-expectation (garapan diri) yang berbentuk rasa bahagia, kebangaan, rasa aman, evaluasi diri yang positif.
Harapan diri muncul karena seseorang hidup dilingkungan sosial dimana dilingkungan sosial terdapat norma dan nilai. Norma yang di internalisasikan kedalam harapan diri, diantaranya :
1)      Norms of aiding ( norma menolong) adalah norma sosial untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
2)      Norm of social responssibility adalah suatu norma sosial yang dimana seorang individu menolong orang yang membutuhkan pertolongan walaupun orang yang ditolong tidak membalas sama sekali.
3)      Norm of giving adalah norma sosial dimana seseorang menolong dengan sukarela.
4)      Norm of justice adalah norma sosial dimana tingkah laku menolong didasari oleh norma keadilan yaitu keseimbangan antara memberi dan menerima.
5)      Norm of recyprocity adalah norma sosial dimana seorang individu menolong orang lain karena merasa akan mendapat imbalan.
6)      Norm of equity adalah norma sosial dimana seorang individu menolong orang lain karena pernah ditolong sebelumnya.
b. Eksosentris
Adalah sumber untuk memperhatikan lingkungan eksternal yaitu membuat kondisi lebih baik dan menolong orang lain dari kondisi buruk yang dialami. Orang yang melakukan tindakan menolong karena mengetahui atau merasakan kebutuhan, keinginan, atau penderitaan orang lain. Hal ini dijelaskan oleh Piliavin dan Piliavin bahwa tindakan menolong terjadi karena :
1)      Adanya pengamatan terhadap kebutuhan atau penderitaan orang lain
2)      Adanya pengamatan terhadap penderitaan yang dirasakan oleh orang lain sehingga menimbulkan motivasi untuk menguranginya.
Menurut Derlega dan Grzelak tingkah laku prososial terjadi karena adanya penderitaan yang dialami oleh orang lain, pertolongan yang diberikan tidak mengharapkan reward eksternal. Pada dasarnya tingkah laku prososial terjadi karena adanya saling ketergantungan antara sipenolong dan orang yang ditolong.
3. Perkembangan Tingkah Laku Prososial
Tingkah laku prososial selalu berkembang sesuai perkembangan manusia, ada 6 tahapan diantaranya :
a. Compliance dan Concret, Defined Reinforcement
Pada tahap individu melakukan tingkah laku menolong karena perintah yang disertai oleh reward. Pada tahap ini remaja mempunyai perspektif egosentris yaitu mereka tidak menyadari bahwa orang lain mempunyai pikiran atau perasaan yang berbeda dengan mereka, selain itu tingkah laku prososial pada tahap ini terjadi karena adanya reward dan punishment yang konkret.
b. Compliance
Pada tahap ini individu melakukan tindakan menolong karena patuh terhadap perintah orang lain yang berkuasa. Tindakan menolong pada tahap ini dimotovasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dan menghindari hukuman.
c. Internal Initiative dan Concret Reward
Pada tahap ini individu menolong karena tergantung pada reward yang akan diterima, tindakan prososial dimotovasi oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau hadiah.
d. Nominative Behavior
Pada tahap ini individu melakukan tindakan prososial untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Individu mengetahui berbagai tingkah laku yang sesuai dengan norma masyarakat. Dalam tahap ini individu mampu memahami kebutuhan orang lain dan merasa simpati dengan penderitaan yang dialami, tindakan prososial dilakukan karena adanya norma sosial yang meliputi norma memberi dan norma tanggung jawab sosial.
e.Generalized Reciprocity
Pada tahap seseorang melakukan tindakan menolong karena adanya kepercayaan apabila suatu saat ia membutuhkan bantuan maka ia akan mendapatkannya, harapan reward pada tahap ini non konkret yang susah dijelaskan.
f. Altruistic Behavior
Pada tahap ini seseorang melakukan tindakan menolong secara sukarela yang bertujuan untuk menolong dan menguntugkan orang lain tanpa mengharapkan imbalan, tindakan prososial dilakukan karena pilihan individu sendiri yang didasarkan pada prinsip moral. Pada tahap ini individu sudah dapat menilai kebutuhan oranglain dan tidak mengharapkan hubungan timbal balik untuk tindakannya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Tingkah Laku Prososial
a. Orangtua
Hubungan antara remaja dengan orangtua menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan remaja berperilaku prososial ketika berinteraksi sosial yang lebih luas. Menurut Ahmadi (1988) keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dalam kehidupan remaja. Remaja belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial.
Cara bertingkah lakudan sikap orangtua dalam keluarga akan mempengarihi suasana interaksi keluarga dan dapat mengakibatkan ciri-ciri tertentu pada perkembangan kepribadian remaja, orangtua adalah pemegang peranan penting dalam pembentukan akhlak dan budi pekerti. Mengingat orangtua merupakan faktor penting dalam pembentukan pribadi remaja maka cara yang digunakan dalam mengasuh dan membimbing remaja tergantung pada sikap, pribadi dan kemampuan yang dimiliki oleh orangtua remaja tersebut.
b. Guru
Selain orangtua, sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan tingkah laku prososial. Disekolah guru dapat melatih dan mengarahkan tingkah laku prososial anak dengan menggunakan teknik yang efektif. Misalnya guru dapat menggunakan teknik bermain peran, teknik ini melatih anak mempelajari situasi dimana tingkah laku menolong di peroleh dan bagaimana malaksanakan tindakan menolong tersebut. Teknik bermain peran mengembangkan sensitivitas terhadap kebutuhan orang lain dan menambah kemampuan role taking dan empati.
c. Teman Sebaya
Teman sebaya mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan tingkah laku prososial khususnya pada masa remaja. Ketika usia remaja kelompok sosial menjadi sumber utama dalam perolehan informasi, teman sebaya dapat memudahkan perkembangan tingkah laku prososial melalui penguatan, pemodelan, dan pengarahan.
d. Televisi
Selain sebagai hiburan, televisi merupakan media agen sosial yang penting. Melalui penggunaan muatan prososial, televisi dapat mempengaruhi pemirsa. Dengan melihat program televisi tidak hanya mengajarkan anak untuk mempertimbangkan berbagai alternatif tindakan tapi juga anak bisa mengerti dengan kebutuhan orang lain, membentuk tingkah laku prososial dan memudahkan perkembangan empati.
e. Moral dan Agama
Perkembangan tingkah laku prososial juga berkaitan erat dengan aturan agama dan moral. Menurut Sears dkk (1992) menyatakan bahwa aturan agama dan moral kebanyakan masyarakat menekankan kewajiban menolong.
5. Implikasi Perkembangan Tingkah Laku Sosial dengan Konseling
Beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru pembimbing dalam upaya membantu peserta didik dalam memperoleh tingkah laku interpersonal yang efektif :
1)      Mengajarkan keterampilan sosial dan strategi pemecahan masalah sosial
2)      Menggunakan strategi pembelajaran yang kooperatif
3)      Meningkatkan kesadaran siswa terhadap efektifitas keterampilan sosial dengan mencerminkan keterampilan sosial tersebut
4)      Mengajak siswa untuk memikirkan dampak dari perilaku yang mereka miliki
Dalam hal implikasi perkembangan tingkah laku prososial terhadap konseling ini juga dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling, selain itu konselor atau guru pembimbing juga dapat bekerja sama dengan pihak terkait. 













BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial yang positif yang menguntungkan, yang ditujukan bagi kesejahteraan oranglain sehingga menjadikan kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik, selain itu tindakan prososial dilakukan atas dasar sukarela tanpe mengharapkan rewad eksternal.

B.     Saran
Pemakalah menyadari bahwasannya masih banyak terdapat kesalahan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar